Home » , » Kisah Seorang Pecatur Gagal Tampil di PORA (Putra Lhoknga)

Kisah Seorang Pecatur Gagal Tampil di PORA (Putra Lhoknga)

Written By Unknown on Monday, 9 June 2014 | 05:05:00


Memakai oblong warna biru berkerah, dan bertuliskan “Prapora Atlet Catur”. Seorang pemuda berbadan tegap datang ke Warkop Sekber di Banda Aceh, akhir pekan lalu. Sekber singkatan dari Sekretariat Bersama. Lokasi tempat mangkal sehari-hari awak media di Banda Aceh, usai liputan. Mulai wartawan televisi, radio, media online, media cetak hingga photografer.
Pemuda berkulit sawo matang itu, bernama Muhammad Akbar, asal Aceh Jaya. Usianya berkisar 28 tahunan. Ia ke Sekber ingin bertemu para wartawan. Akbar, begitu sapaannya, memulai keluhannya pada para wartawa. Ia merupakan atlet catur perorangan utusan Kabupaten Aceh Besar, di ajang Prapora yang digelar di Banda Aceh, akhir tahun 2013 lalu.
Pada wartawan, termasuk Harianaceh.co, Akbar mengaku dirinya menjadi korban pengurus catur di Kabupaten Aceh Besar. Hanya karena meminta uang saku disamakan dengan atlet catur beregu saat Prapora. Sebab uang saku yang ia terima hanya Rp20 ribu perhari. Sementara, atlet beregu menerima Rp 100 ribu perhari.
Ia mengaku sengaja digugurkan untuk ikut ke ajang PORA yang digelar di Aceh Timur, Juni ini. Tim catur Aceh Besar tidak memberangkatkan atlet perorangan. Padahal, M Akbarlah satu-satunya atlet catur perorangan yang ikut Prapora sebelumnya.
“Atlet catur perorangan dari Aceh Besar hanya saya sendiri yang ikut PraPORA. Saya dapat rangking VI saat itu. Keputusan awal, rangking 1 hingga VII PraPORA akan diikutkan ke PORA. Namun akhirnya saya digugurkan. Hanya karena persoalan uang saku saat Prapora,” ceritanya.
Kejadian itu menurutnya telah merugikan karirnya sebagai pecatur, ia lalu mencoba melakukan berbagai cara agar permasalahan itu terselesaikan. Ia mencoba menemui semua pengurus catur di Aceh Besar, termasuk Ketua Koni Aceh Besar, T Ibrahim.
M Akbar melakukan ini karena sebelumnya ia merupakan atlet catur dari Aceh Jaya dan tinggal di sana. Namun karena orang tuanya asal Aceh Besar, saat diajak Pengurus Harian Catur Aceh Besar, Wira Akbar, ia setuju memperkuat catur asal kampung orang tuanya itu.
“Andai saya tidak di ajak, saya sudah memperkuat tim Aceh Jaya di Pora ini. Tapi, akhirnya karir saya jadi terkatung-katung begini,” sesalnya. Kini ia akan minta pertanggung jawaban panitia atas nasibnya itu. Setidaknya memberikan penjelasan yang memuaskan baginya.
Pengurus catur di Aces Besar memang telah memberi sedikit penjelasan untuknya. Tapi penjelasan itu menurut M Akbar tidak seperti kenyataan. Penjelasan diberikan kepada M Akbar, disampaikan oleh Pengurus Harian Catur Aceh Besar, Wira Akbar, melalui surat ber-kop Pengurus Catur Aceh Besar dan berstempel. Meski sama-sama berujung Akbar, namun antara keduanya (M. Akbar-Wira Akbar) tak berhubungan family. Keduanya hanya saling mengenal selama menggeluti dua percaturan ini.
Dalam surat diceritakan, bahwa M Akbar pada September 2013 pernah mendatanginya dan mengutarakan keinginannya bergabung dengan atlet catur Aceh Besar dalam PraPORA. Permintaan itu disambut baik, asalkan bisa lolos saat seleksi atlet .
Pascaseleksi, M Akbar dinyatakan tidak lolos PraPORA. Beberapa nama yang dinyatakan lolos antara lain, Anas, Enda Yusra, Wira Akbar, Musri Deni, Famela Naridha dan Wita Rahayu. Namun menurut Wira Akbar, kegagalan ini tidak diterima dengan lapang dada oleh M Akbar. Sehingga ia sampai 7 kali bolak-balik menemui Wira Akbar untuk tetap diikutkan ke Prapora.
Karena sering mendatanginya, Wira Akbar kemudian menerima dan mengusulkan M Akbar ini untuk diikutkan ke PraPORA di kelas atlet catur perseorangan. Sebab, atlet perseorangan ini sedang kosong. Namun, saat Prapora M Akbar ternyata hanya bisa menduduki peringkat VI.
Sementara hasil musyawah, atlet yang diberangkatkan ke PORA hanya mereka yang mendapat peringkat 1-3 (prioritas), peringkat 4-5 (non prioritas) sementara peringkat 6 dan 7 tidak diberangkatkan.
Demikian penjelasan Wira Akbar melalui surat resmi untuk M Akbar. Namun bagi M Akbar, alasan dan keinginannya yang kuat ke PORA, membuat dia bergeming. Dan wartawan menjadi tempatnya terakhir mengadu. Begitulah suatu hari, di Sekber…
sumber : harianorbit.com

0 comments:

Post a Comment