BANDA ACEH - Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menolak kenaikan biaya semester pendek (SP) dari Rp 75.000 menjadi Rp 100.000/SKS. Penolakan itu disampaikan sekitar 30-an mahasiswa di Biro Rektorat Unsyiah, Selasa (17/6).
Aksi penolakan yang dikoordinator mahasiswa FISIP Unsyiah, Putra Rizki Yaulan Radianto, berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB hingga 11.30 WIB. Dalam aksinya mahasiswa yang terdiri atas perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Hukum, FISIP, dan Pertanian ini meminta agar Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal menjelaskan kenaikan biaya SP tersebut.
“Kenaikan biaya SP ini memberatkan mahasiswa, apalagi bila banyak SKS yang diambil maka banyak uang yang harus dikeluarkan,” kata seorang orator melalui pengeras suara.
Sementara Koordinator Lapangan, Putra Rizki mengatakan pihaknya menuntut agar biaya SP diturunkan kembali menjadi Rp 75.000/SKS, meminta transparansi rektor Unsyiah terhadap pengelolaan dana-dana di Unsyiah, dan menolak Unsyiah untuk dipimpin oleh seorang rektor yang mereka nilai arogan dan otoriter dalam pengambilan keputusan.
“Kebijakan menaikkan tarif SP adalah salah satu tanda rektor Unsyiah antipati terhadap mahasiswa. Mengambil keputusan menaikkan tarif SP tanpa melibatkan partisipasi mahasiswa, padahal mahasiswalah yang paling terkena dampak dari kenaikan biaya tersebut,” kata Putra Rizki dalam orasinya.
Sejumlah mahasiswa yang membawa spanduk bertuliskan ‘Tolak Kenaikan Biaya SP!’ ini masih menunggu pihak rektorat untuk menemui dan menjelaskan terkait kenaikan biaya SP. Pantauan Serambi, kemarin, hingga pukul 11.00 WIB tak ada satupun pihak rektorat yang menemui mahasiswa tersebut. Selanjutnya aksi mahasiswa yang mendapat pengawalan dari pihak kepolisian dan petugas satpam ini berhasil masuk ke dalam ruang rektorat setelah berhasil menerobos pintu depan. Sejumlah mahasiswa langsung naik ke lantai dua dan meminta rektor untuk menemui mereka. (una)
Sumber : Serambi News

0 comments:
Post a Comment